Matahari baru muncul di ufuk timur di minggu ketiga bulan Ramadhan. Di saat sebagian warga masih terlelap selepas sahur dan menunaikan sholat subuh, Pak Sholeh sudah siap dengan perlengkapan kerjanya dan segera mengayuh sepeda bututnya selepas berpamitan dengan istri dan anaknya. Sebagai kurir pengantar surat, Pak Sholeh harus berangkat pagi-pagi karena perjalanan yang ditempuhnya amat jauh. Demi niat mulia menyampaikan berbagai surat ke alamat yang dituju, dia rela menjalani perjalanan melelahkan meski menahan lapar dan dahaga. Tidak hanya naik dan turun daerah perbukitan, dia juga harus bersabar antre untuk menyeberangi sungai dengan perahu tambang. Hari ini tujuan pertamanya adalah sebuah rumah mewah di pinggiran kota. Matahari mulai meninggi saat Pak Sholeh sampai pada rumah yang dituju. Kepada tukang kebun yang tengah membuka pintu gerbang, Pak Sholeh menyerahkan dua pucuk kartu lebaran dengan perasaan lega dan bangga. Sejenak melepas lelah, dia mengamati kemewahan yang ada di depan matanya. Sejurus dia melihat si tukang kebun tergopoh-gopoh memberikan kartu lebaran yang baru diterimanya kepada seorang pria berwibawa yang tengah memasuki mobil mewah, Tepat ketika mobil itu menderu melintasi gerbang rumah, jendela belakang terbuka perlahan dan dua pucuk kartu lebaran melayang keluar..
----
Begitulah dramatisasi dari iklan PT Jarum di bulan Ramadhan tahun ini. Begitu menggelitik sekaligus menyentuh karena kita seolah bisa menyelami betapa hancur perasaan Pak Sholeh segala keikhlasan dan perjuangannya untuk melaksanakan tugas karena tidak mendapatkan apresiasi yang semestinya. Tindakan si orang kaya mungkin memang disengaja, atau mungkin juga karena ketidaktahuannya atau lebih tepatnya kebutaan hatinya untuk bisa melihat dari sisi lain, untuk memahami dan mengapresiasi upaya yang dilakukan orang lain untuk dirinya. Dia lupa bahwa antara dia dan Pak Sholeh sebenarnya mempunyai derajat yang sama.
Di dunia nyata realita semacam itu pun sering kita temui, bahkan mungkin tanpa sadar kita menjadi pelakunya. Kesombongan yang timbul karena jabatan dan kekayaan yang disandang terkadang menjadikan kita sombong dan buta hati melupakan hakikat penciptaan manusia untuk berbagi dan saling menghormati mengingat derajat yang sama di mata pencipta-Nya. Jabatan dan kekayaan cenderung membuat kita tanpa sadar membedakan derajat manusia. Seorang kaya dan terpandang hanya bersedia bergaul dengan kalangan yang sama. Seorang pintar dan terpelajar cenderung meremehkan orang lain yang tidak mempunyai kesempatan belajar sebaik mereka.
Di dunia kerja pun realita ini terasa keberadaannya. Bila sahabat merdeka adalah seorang pemimpin, pasti pernah menerima pendapat, masukan, ide dan gagasan dari bawahan Anda. Bagaimana selama ini Anda menyikapi pendapat mereka? Menghargai dengan tulus? Memberikan apresiasi? Atau justru seolah-olah menerima tapi tidak pernah menindaklanjutinya? Atau lebih parah lagi, mencemooh, meremehkan atau menertawakan? Sebagai pemimpin, sikap meremehkan pendapat yang dikemukakan oleh anak buah sering kita persepsikan sebagai suatu kewajaran. Kita merasa lebih berpengalaman, merasa lebih senior, punya jabatan lebih tinggi, lebih berpengetahuan dan berbagai asumsi ‘kelebihan dan keunggulan’ lainnya. Tapi, sadarkah kita bahwa semakin kita tunjukkan perilaku semacam itu, maka semakin pula diri kita tampak bodoh, bebal dan tidak menyenangkan? Siapa tahu sikap seperti ini yang menjadi penyebab tidak memuaskannya kinerja anak buah Anda selama ini.
Sebagai pemimpin, kita perlu mengasah kepekaan perasaan dan indera kita. Merdekakan perasaan respek, rendah hati, belas kasih, percaya, dan sifat jujur, sabar, ikhlas, pemurah dari belenggu egoisme diri. Buka lebar-lebar kesempitan pola pikir yang selalu memandang orang lain hanya dari kelemahannya, menganggap diri lebih pintar, lebih berpengalaman, lebih berpengetahuan, lebih hebat, lebih berkuasa dan sebagainya. Buka tirai yang selama ini menyelubungi nurani agar kita kembali ikhlas membagi dan memberi kelebihan yang kita miliki, baik dari berupa materi, pengetahuan atau keahlian yang kita miliki kepada siapa pun yang membutuhkannya. Bantu orang lain menemukan kesuksesan mereka karena itu juga berarti kesuksesan bagi Anda.
Bila timbul perasaan nikmat, enak dan terpenuhi setelah kita melakukan kebaikan kepada orang lain, maka itu berarti tirai nurani dan belenggu pikiran telah terbuka dan Anda telah kembali ke hakikat sejati sebagai manusia, makhluk termulia sang Pencipta. Bila Anda pemimpin rumah tangga, Anda akan menjadi pelindung dan panutan yang selalu didamba kehadirannya oleh anak istri Anda. Bila Anda pemimpin organisasi atau perusahaan, maka Anda akan menjadi teladan yang amat dihormati, disayangi dan didengar.
| < Prev |
|---|