Membangun Budaya Yang Bersih Dan Bermartabat
Upaya-Upaya Untuk Mewujudkan Bangsa Yang Bebas Penyelewengan dan Bebas Korupsi
Beberapa hari yang lalu di hampir seluruh daerah kabupaten dan kota di Indonesia, kita bisa melihat masa turun ke jalan dengan atribut masing-masing mulai dari bendera sampai poster, dengan kegiatan yang beragam mulai dari acara bagi bunga sampai orasi. Mereka bermaksud memperingati International Anti Corruption Day yang jatuh pada tanggal 9 Desember 2009. Kemarin lusa satu stasiun radio di kota kami, FM 100 - Suara Surabaya, memprakarsai deklarasi suatu aksi yang diberi title “Satu Tekad Tanpa Suap.” Apa yang mereka inginkan dari seluruh aktifitas yang mereka lakukan pada hari-hari tersebut? Idealnya mereka menginginkan korupsi dan segala cabangnya enyah dari bumi pertiwi Indonesia tercinta ini. Akankah upaya mereka berhasil?
Korupsi jelas merusak tatanan pemerintahan yang baik, menghambat pertumbuhan kita sebagai bangsa, serta menghancurkan harapan dan masa depan generasi pewaris bangsa ini. Setiap upaya untuk memberangus korupsi harus kita dukung sepenuhnya serta yang paling penting setiap usaha untuk menghentikan korupsi harus di pikirkan dengan baik efektifitasnya agar tidak sekedar menjadi sensasi yang tidak berujung pada hasil nyata. Tindakan seperti apa yang bisa berujung pada hasil nyata?
Untuk menemukan tindakan (atau lebih tepatnya tindakan-tindakan) kita perlu menyadari bahwa istilah ‘budaya korupsi’ itu bukan sekedar hiperbola atau olok-olok yang kita tujukan kepada pemerintah kita. Budaya korupsi adalah suatu realita kehidupan yang kita hadapi dan jalani setiap hari. Istilah budaya korupsi juga menunjukkan besarnya masalah korupsi yang kita hadapi. Penggunaan istilah budaya korupsi memberi kita informasi bahwa di dalam kesehariaannya manusia Indonesia mempunyai kecenderungan untuk melakukan tindakan koruptif, yang di sekolah melakukan upaya jual beli nilai, yang berkendara terbiasa membeli kelancaran berlalu-lintas, yang di lembaga peradilan tawar menawar harga suatu kasus, dan banyak lagi. Hal-hal di atas juga membuka informasi lain bahwa banyak masyarakat kita yang menganggap harus menyediakan uang ekstra bila ingin suatu urusan lancar. Celakanya ini sekaligus sudah menjadi asumsi public sehingga mereka sangat rela dan merasa sangat wajar memberi ‘tip atau uang jasa’ kepada aparat yang sudah mempermudah urusan mereka. Korupsi sudah jelas terlihat pada level artifact (proses-proses dan tindakan yang bisa dilihat), expoused beliefs (kepercayaan beberapa individu dalam masyarat kita), dan shared assumption (kesepahaman dan keseragaman pikiran masyarakat kita).
Untuk mampu merubah itu semua maka ada dua hal yang perlu dilakukan yang pertama menghancurkan budaya yang lama yaitu budaya korupsi, dan yang kedua membangun budaya baru, budaya yang bersih dan bermartabat.
Bagaimana kita menghancurkan budaya yang lama?
Manusia menjalani hidupnya di dorong oleh suatu motif yang secara umum adalah menghindari ketidak nyamanan (unpleasantness) dan mencari kenyamanan (pleasantness). Mengapa ada orang yang melakukan tindakan suap ketika dia dihentikan polisi dan akan ditilang? Begitu dia sadar bahwa dia bersalah dan akan kena tilang, dia mulai berpikir dimanadan jauh tidaknya lokasi pengadilan. Dia juga akan membayangkan bahwa SIMnya harus ditahan, waktunya tersita, dan mengeluarkan uang dalam jumlah yang banyak. Sistem alaminya akan menyimpulkan lebih mudah dan nyaman (pleasant) bila dia tidak harus kemana-mana dan bayar terlalu banyak. Pilihannya? Suap saja oknum polisi yang sudah menghentikannya tadi. Secara intelektual itu adalah pilihan logis.
Para investorpun mengeluarkan uang pelicin demikian banyak karena mereka ingin segera disetujui segala proposal mereka dan dipermudah urusannya. Tidak lebih. Tidak ada satupun mereka yang membayarkan uang pelicin karena mereka merasa iba kepada para pejabat negara ini. Mereka membayar karena ingin nyaman. Toh mereka punya uangnya.
Merangkum semua itu pilihan yang harus ditempuh adalah menawarkan kenyamanan bagi siapapun yang terlibat urusan semacam hal-hal di atas. Semua proses administrative procedural yang ada dinegara ini harus dimudahkan, disederhanakan, ditransparankankan, dan dipercepat. Siapa yang mau begitu saja membayar oknum polisi bila membayar tilang bisa melalui transfer pulsa, transfer ATM, bayar online, tanpa harus menyerahkan SIM, dan nominal dendanya relative murah bila pelanggaran itu baru dilakukan kali pertama.Dalam dunia bisnis akan terjadi penurunan jumlah upaya suap secara signifikan bila seluruh proses perijinan mengalami penyederhanaan, percepatan, dan pemudahan yang jelas dan transparan. Semua akan dengan nyaman menjalani proses yang seharusnya bila setiap proses dikembangkan dengan prinsip bahwa ini adalah yang paling mudah dan sederhana untuk para masyarakat serta terus menerus diuji untuk membuktikan bahwa memang tidak ada lagi proses yang lebih mudah.
Masih banyak lagi contoh-contoh yang bisa kita gali sendiri dari seluruh rangkaian proses yang ada di negara kita, mulai dari proses yang paling mudah sampai proses yang paling besar sekalipun. Proses yang rumit dan berbelit dimaksudkan untuk menjamin kualitas hasil dari proses namun pada kenyataannya proses yang rumit dan berbelit justru mendorong adanya banyak sekali penyelewengan sehingga akhirnya hasilnyapun jauh dari berkualitas. Mempermudah, menyederhanakan, mempercepat, dan memperjelas proses adalah tindakan yang harus terus menerus dilakukan dan ditingkatkan.
Dari sisi ketidak nyamanan (unpleasantness) sangsi atau hukuman kepada para penyuap dan koruptor harus ditingkatkan derajat severity atau keparahannya. Untuk menambah efek ketidak-nyamanan perlu pula dipikirkan cara agar masyarakat bisa dengan mudah ikut aktif memonitor apa yang terjadi di depan mata mereka, mulai kasus penyuapan untuk memperoleh KTP sampai kasus-kasus besar lainnya. Apabila mereka melihat (yakin atau tidak yakin) sesuatu kegiatan yang melibatkan suap, permudah dan perbanyak akses mereka untuk melapor. Setiap laporan toh masih bisa ditelusuri kebenarannya secara proporsional . Yang paling penting disini adalah adanya ketidaknyamanan dan ketidak leluasaan bagi mereka para penyuap dan penerima suap. Bila menyuap oknum harus pergi jauh dari tempat kejadian dan sembunyi-sembunyi maka tentunya ini sudah melemahkan ‘semangat’ penyuap dan penerima suap.
Itu adalah beberapa tindakan penting yang perlu di ambil untuk menghancurkan budaya korupsi tersebut. Tindakan-tindakan tersebut sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa. Menjadi istimewa karena selama berpuluh-puluh tahun kita belum mau secara frontal mengambil langkah-langkah di atas. Kalaupun ada skalanya masih sangat terbatas dan sering kali kesannya adalah setengah hati. Bila memang kita serius langkah nyata harus berani kita ambil. Hal-hal yang sangat sederhana seperti di atas harus kita lakukan. Teknologi sudah melaju demikian kencangnya sehingga hampir tidak ada alasan lagi untuk kita tidak mampu mempermudah dan menyederhanakan suatu proses serta membuka beragam akses untuk masyarakat turut serta memonitor apa yang terjadi di lingkungan mereka.
Sekarang, bagaimana cara membangun budaya yang baru, budaya yang bersih dan bermartabat tadi?
Untuk membangun budaya yang bersih dan bermartabat tadi dibutuhkan cara yang sistematik dan menyeluruh karena kita tidak sedang membuat suatu program, melainkan membangun BUDAYA (perhatikan kembali apa yang dimuat oleh kata budaya pada paragraph tiga artikel ini). Proyek pembangunan ini harus melibatkan seluruh elemen bangsa, namun posisi dan peranan masing-masing harus jelas. Selama ini pemerintah selalu mendengungkan, “Untuk memberantas korupsi diperlukan keterlibatan masyarakat secara aktif.” Pada sisi lain beberapa bagian masyarakat berteriak, “Pemerintah harus membersihkan diri dari korupsi!”
Lhoh, apakah ada yang salah pada dua pernyataan di atas?
Tidak ada yang salah. Bila kita mau cermati, dua pernyataan tadi tidak akan pernah membawa kita ke arah perbaikan yang mendasar. Seharusnya komponen pemerintah mulai lebih sering menyatakan, “Pemerintah akan lebih aktif lagi membersihkan diri dari korupsi dan terus mencari cara yang paling tepat agar masyarakat lebih mudah untuk ikut mengawasi kami.”
Masyarakat harus mengeluarkan pernyataan, “Kami akan memastikan diri kami dan keluarga kami bisa bersih dari segala hal yang berbau korupsi serta kami akan memberi masukan kepada pemerintah tentang apa yang bisa kami lakukan untuk berpartisipasi aktif dalam hal pemberantasan korupsi.”
Perhatikan pernyataan-pernyataan pada dua paragraph terakhir dan analisa perbedaan mendasarnya dari pernyataan-pernyataan yang ada pada paragraph sebelumnya. Apa yang kita temukan?
Ya. Tepat sekali. Pernyataan-pernyataan pada dua paragraph terakhir menyiratkan keinginan masing-masing pihak untuk MERUBAH DIRI SENDIRI. Merubah diri sendiri adalah perubahan yang paling efektif dan relative lebih mudah dilakukan. Merubah diri sendiri juga merupakan awal dari perubahan yang lebih besar. Seekor ulat tidak pernah meminta teman-temannya untuk mencarikan dia sayap-sayap yang berwarna-warni agar dia menjadi seekor kupu-kupu. Ulat membawa dirinya sendiri untuk berubah sehingga dia bisa menjadi kupu-kupu yang indah.
Setelah memastikan perubahan untuk diri sendiri kita bisa berperan aktif pada perubahan yang lebih besar. Untuk perubahan yang lebih besar ini kita bisa memakai prinsip-prinsip yang di kemukakan oleh Alan Deutschman dalam bukunya CHANGE OR DIE. Deutschmen mengungkapkan bahwa untuk mampu berubah kita memerlukan 3R, Relate (berhubungan), Repeat (Mengulang), dan ReframeRelate mengharuskan kita membentuk suatu hubungan-hubungan yang berlandaskan nilai-nilai baru yang lebih membangun, lebih memberdayakan. Repeat adalah cara yang harus kita tempuh agar pola-pola kehidupan baru terbentuk dan pola-pola lama terputuskan (dari otak kita tentunya!). Reframe adalah cara agar pola-pola baru yang telah terbentuk tadi bisa lebih langgeng pengaruhnya dan kita benar-benar bisa mengalami perubahan yang sempurna. Jelasnya seperti ini. (Membingkai ulang).
Dalam kaitan dengan membangun budaya yang lebih bersih dan bermartabat, kita perlu memulai hubungan-hubungan baru dengan mereka yang mempunyai keinginan yang sama. Kita akan sangat sulit berhenti merokok bila kita terus menerus berada pada lingkungan yang tidak pernah lepas dari batang rokok. Demikian juga dengan korupsi, bila setiap hari kita masih membiarkan diri kita berada pada lingkungan yang mentoleransi penyelewengan dalam bentuk apapun (melanggar aturan lalu lintas tapi tetap cuek, buang sampah sembarangan, memaki orang lain sebagai tanda bahwa kita berkuasa, dan lain-lain) maka akan sulit korupsi itu kita hilangkan. Buat hubungan yang baru. Untuk kita pribadi, kita bisa mulai dari keluarga kita. Ajarkan diri kita dan, setelah itu, keluarga kita untuk lebih santun dan taat pada peraturan, peraturan Tuhan maupun peraturan manusia.
Untuk memperkuat bentuk pola baru yang mengarah pada budaya yang bersih bermartabat tadi kita perlu melakukan hal kedua yang disebut oleh Deutschman dalam CHANGE OR DIE, repeat. Luangkan waktu setiap hari, dua hari sekali atau paling tidak satu minggu sekali untuk bersama berdiskusi dengan keluarga kita tentang bagaimana agar kita lebih mampu taat pada semua peraturan itu. Kita saling terbuka dengan anggota keluarga kita tentang peraturan mana saja yang mungkin kita langgar pada hari ini atau minggu ini dan bagaimana kita bisa memperbaikinya. Hal-hal sederhana seperti itu harus dilakukan karena itu semua akan bermuara pada budaya yang bersih dan bermartabat.
Sementara bila kita bekerja di kantor, baik pemerintah maupun swasta, kita bisa melakukan hal serupa dengan beberapa rekan terdekat kita. Ini lebih mudah dilakukan bila kita adalah pemimpin di kantor itu. Pada setiap sesi briefing pagi diskusikan secara singkat namun menggunakan cara yang efektif tentang korupsi, suap, dan penyelewengan-penyelewengan lain terkait dengan hal-hal itu. Arahkan diskusi tersebut ke arah refleksi pribadi masih-masing individu. Fokuskan bagaimana mereka bisa mencegah hal-hal itu agar tidak terjadi dan bagaimana mereka bisa terus menerus melindungi diri dari hal-hal tadi. Diskusikan apa yang telah masing-masing individu lakukan secara berbeda dalam upaya mereka mencegah aksi korupsi, suap, atau sogok-menyogok. Untuk level perusahaan, sebaiknya, ditunjuk seorang Anti Corruption Champion di tiap-tiap unit kerja. Yang lebih penting lagi, para Champion itu harus dibekali dengan deskripsi pekerjaan yang sangat jelas dan dibekali pengetahuan seputar merubah budaya organisasi.
Secara berkala organisasi-organisasi tersebut bisa mengadakan communication meeting dengan organisasi lain yang berada di area kerjanya. Communication meeting dihadiri oleh pemimpin organisasi dan para Anti Corruption Champion tadi. Disana bisa dibahas best practice-best practice berkenaan dengan membangun budaya yang bersih dan bermartabat serta bisa juga membahas solusi-solusi atas masalah yang belum bisa terselesaikan di tingkat organisasi.
Untuk upaya reframe, setelah semua hal di atas berjalan beberapa waktu, untuk di level keluarga, pemimpin keluarga bisa mulai mengarahkan topic diskusi keluarga lebih ke arah manfaat berbudaya bersih dan bermartabat. Diskusi lebih dipenuhi oleh kenyamanan apa saja yang mereka peroleh setelah mereka lebih taat peraturan. Sangat memungkinkan pula memberikan hadian kecil kepada anggota keluarga yang sudah mampu merubah beberapa perilakunya dari perilaku yang kurang memberdayakan ke yang lebih memberdayakan. Semua ini pada akhirnya akan mengarah pada budaya baru yang lebih bersih dan bermartabat.
Di level organisasi bisa juga melakukan hal-hal yang serupa yang tentunya dalam dimensi yang berbeda. Pada dasarnya pada reframe ini dilakukan upaya pembentukan keyakinan dan pandangan baru tentang suatu hal. Dalam hal ini bila kita dulu berpikir bahwa sekali-kali melanggar itu bisa dilakukan untuk memperlancar suatu urusan kepada keyakinan dan pandangan baru bahwa hidup dalam kerangkan mematuhi peraturan itu lebih nyaman. Kita bergerak dari sangkaan bahwa menggunakan uang pelicin itu perlu untuk efisiensi proses urusan kita kepada pemahaman baru bahwa tanpa uang pelican semua proses dan urusan bisa sangat efisien dan efektif.
Masih banyak lagi hal-hal yang bisa kita lakukan tentang membangun budaya yang lebih bersih dan bermartabat untuk memperoleh negara yang bebas korupsi dan penyelewengan. Yang harus kita mengerti adalah tidak ada cara yang instan dan sepele. Semua memerlukan proses yang berkelanjutan dan semuanya memerlukan upaya yang sungguh-sungguh. Upaya-upaya tersebut harus selalu berangkat dari diri kita sendiri. Kita rubah diri kita sendiri baru kita bantu keluarga terdekat kita dan seterusnya. Untuk mengakhiri artikel ini saya ingin berbagi cerita.
Pagi itu, seorang pelancong muda sedang berjalan menyusuri pantai yang terletak di belakang hotel dimana ia menginap selama liburannya. Keadaan di pantai tersebut tidak terlalu bagus seperti biasanya. Semalam badai dan gelombang pasang tinggi singgah di daerah itu. Badai telah melemparkan ranting-ranting kayu bertebaran di sepanjang pantai. Badai juga telah mendamparkan ratusan bahkan mungkin ribuan bintang laut di atas hamparan pasir, bertumpuk berhimpit di antara ranting-ranting kering yang bertebaran.
Pelancong muda tadi sedikit tertegun menyaksikan pemandangan tadi. Sempat dia berpikir, “Ah, kasihan bintang laut-bintang laut itu. Sebentar lagi matahari meninggi dan pasir pantaipun akan mengering. Pasti akan banyak bintang laut-bintang laut yang akan mati.”
Dia bergerak lebih dekat ke serakan bintang laut-bintang laut itu. Ingin dia meraih mereka dan melemparkannya kembali ke laut. Dalam hati ia berkata, “Terlalu banyak bintang laut yang terdampar di pantai. Aku tidak bisa menyelamatkan mereka.” Iapun perlahan berjalan menjauh dari binatang-binatang malang itu dan kemudia berlalu.
Beberapa saat berjalan dia melihat seorang tua, mungkin penduduk lokal daerah itu, melemparkan sesuatu ke laut. Ia tertarik dan mendekat. Ia melihat orang tua itu memungut bintang laut-bintang laut dari pasir dan melemparkannya kembali ke laut, satu per satu.
“Bapak, apa yang sedang bapak lakukan?” Tanya pelancong muda itu.
“Aku sedang menyelamatkan bintang laut-bintang laut ini.” Jawab orang tua itu.
“Tetapi Bapak.. apa yang bapak lakukan tidak akan berarti, tidak akan ada bedanya karena ada begitu banyak bintang laut yang terdampar.”
“Anak muda lihat ini.” Ujar orang tua itu sambil melemparkan satu bintang laut kembali ke dalam air. “Aku baru saja membuat perbedaan dalam hidup bintang laut yang satu tadi.”
Tidak akan ada yang terjadi bila kita selalu berfokus pada kesulitan. Tidak akan ada yang berubah bila kita tidak mau berubah. Semua perubahan dimulai dari satu langkah kecil namun nyata. Semua perubahan memerlukan keberanian dan usaha. Mari kita mulai dari diri kita dan mari kita wariskan negara yang berbudaya luhur, bersih dan bermartabat kepada generasi yang akan datang.
Selamat berjuang.
| < Prev |
|---|