Hilangnya Sisi H.U.M.A.N Di Tengah Hiruk Pikuk Democrazy
Membangun Budaya Yang Bersih Dan Bermartabat - Part II
Menyuarakan pendapat bisa dilakukan dengan berbagai cara. Kita mempunyai pilihan untuk menyuarakan suara kita melalui tulisan yang kita publikasikan di koran, lewat email atau kita posting ke blog atau website. Kita juga punya pilihan menyuarakannya dengan cara berdialog, lewat radio, telepon ataupun menyuarakannya langsung dengan berbicara kepada pihak terkait atau bahkan berbicara di depan publik. Apa pun cara yang kita tempuh, tentunya sah-sah saja di era kebebasan menyatakan pendapat seperti sekarang ini.
Menjadi nilai tambah apabila pendapat yang kita suarakan tersebut kita niatkan untuk kebaikan bersama atau mengupayakan peningkatan dan perbaikan sistem, kondisi atau kehidupan. Namun, bila kita menyuarakannya untuk kepentingan tersembunyi diri atau kelompok sendiri dengan mengesampingkan kepentingan yang lebih luas, maka itu mencederai makna kebebasan menyatakan pendapat.
Hal yang sama apabila kita menyuarakan sesuatu berdasarkan asumsi semata, tanpa terlebih dulu membekali diri dengan informasi yang lebih lengkap, dan kita menyuarakannya ke ranah publik seolah kebenaran yang sesungguhnya telah kita ketahui dengan pasti. Kenapa hal ini bisa mencederai kebebasan menyatakan pendapat? Karena akan ada banyak orang yang menelan mentah-mentah apa yang kita suarakan. Otak kita tidak bisa membedakan antara fakta dengan asumsi. Apa pun yang kita dengar akan ditampung sebagai informasi yang mempengaruhi pemikiran dan respons kita terhadap sesuatu.
Pernahkan Anda membayangkan dampak yang timbul saat tanpa kita sadari kita menerima informasi menyesatkan lantas otak kita menganggapnya menjadi suatu fakta dan kita menjadi sangat marah dan sakit hati karenanya? Tentunya pemikiran dan perasaan yang berkembang dalam diri kita akan menggerakkan respons dan tindakan kita secara negatif. Apa yang mungkin terjadi? Kemarahan kita membuat kita menelan mentah-mentah dan mempercayai informasi yang salah. Kita mungkin mengutuk, membenci, menghujat. Kita bahkan mungkin tergerakkan oleh emosi yang tereskalasi dengan melakukan tindakan yang destruktif. Dampaknya? Kerusakan! Apa yang kita kesampingkan? Norma dan kepantasan. Hal ini menjadikan diri kita seburuk orang atau pihak yang telah melontarkan fitnah tersebut. Kita seburuk mereka.
Inilah yang terjadi pada bulan Mei 1998. Ribuan orang telah bertindak anarkis dan destruktif karena informasi menyesatkan yang mereka terima. Emosi yang tereskalasi telah membutakan mata hati sehingga mereka tanpa sadar membenarkan apa pun tindakan destruktif dan anarkis yang mereka lakukan. Mereka menganggap kerusakan yang mereka timbulkan, kepedihan luka fisik dan batin para korban tindakan destruktif dan anarkis tersebut sepadan dengan sakit hati dan amarah yang menggelora di dada mereka.
Apakah timbul penyelasan di hati mereka setelah emosi reda? Pasti iya. Apakah ada perasaan puas dan terpenuhi di dalam relung hati terdalam saat melihat dampak dari kerusakan yang mereka timbulkan? Pasti tidak. Yang timbul pasti justru perasaan hampa, gelisah, pedih karena mereka telah mengingkari nilai kemanusiaan yang tertanam di hati tiap insan manusia.
Saat ini, situasi yang sama seolah berulang. Dengan mengatasnamakan kebebasan berdemokrasi, berbagai elemen massa melakukan demonstrasi turun ke jalan di berbagai untuk menyuarakan pendapatnya. Turun ke jalan rupanya menjadi pilihan utama untuk menyuarakan pendapat. Sayang sering kali mereka menyertakan tindakan anarkis dan destruktif dalam prosesnya. Menghujat, menghina, membakar ban, merusak kendaraan, menghancurkan fasilitas umum dan gedung, melemparkan batu ke pihak lain, membakar simbolisasi dari seseorang atau institusi dan bahkan mengusung keranda bertuliskan nama seseorang yang jelas masih hidup. Mereka bertindak seolah yang mereka suarakan adalah kebenaran hakiki yang telah terbukti!
Bagaimana kalau ternyata informasi dan fakta yang mereka dengar ternyata tidak terbukti kebenarannya? Bagaimana kalau ternyata persepsi mereka berbeda dengan fakta yang sesungguhnya? Bagaimana kalau ternyata yang mereka suarakan adalah fitnah? Bagaimana kalau di antara orang yang mereka lempari batu ternyata saudara dan kerabat mereka sendiri? Tidak sadarkah mereka bila fasilitas yang mereka rusak dibangun dari uang mereka sendiri? Tidak tahukah mereka betapa aksi-aksi mereka telah menyengsarakan masyarakat yang saat itu berniat mulia untuk bekerja dan menjadi terganggu, terhambat, bahkan bisa jadi dipecat karena terlambat?
Menjadi ironis karena banyak tindakan anarkis dan destruktif justru dilakukan elemen oknum mahasiswa. Menjadi lebih ironis karena bergeraknya massa kebanyakan akibat pengaruh dari opini dari tokoh masyarakat yang semestinya menyejukkan, bukan malah mengobarkan kemarahan dan dendam. Tidak bisakah para tokoh terhormat ini menyuarakan opininya dengan santun tanpa menimbulkan gelora amarah? Mohon diingat, begitu banyak masyarakat yang tidak mempunyai akses informasi dan kematangan berpikir seperti para tokoh terhormat ini sehingga apa pun opini yang mereka lontarkan akan langsung ditelan mentah-mentah oleh masyarakat sebagai suatu kebenaran dari tokoh yang dipuja dan bahkan dianggap sebagai pemimpinnya. Mewakili masyarakat yang merindukan kedamaian, kami memohon para tokoh masyarakat terhormat negara ini untuk bersikap arif dan memikirkan dalam-dalam sebelum mengeluarkan pernyataan. Bukankah seorang pemimpin mempunyai karakteristik dasar untuk menginspirasi ke arah kebaikan, bukan malah menghasut? Seorang tokoh masyarakat yang dengan mudah membuat masyarakat merah telinga, marah, dendam akibat opini yang dikemukakannya terkait suatu situasi tidaklah pantas dianggap sebagai pemimpin. Seorang tokoh masyarakat atau pemimpin tidak akan menimbulkan kerusakan di tengah masyarakatnya sendiri.
Saat seseorang tertawa ‘puas’ memandang kerusakan yang ditimbulkan, di saat bersamaan relung hatinya pun pasti memunculkan rasa nyeri, tidak enak dan gelisah. Semakin luar biasa dampak kerusakan yang ditimbulkan, kehampaan yang timbul dalam hatinya justru lebih dalam, makin dalam menjadi sangat dalam sehingga terasa begitu pedih dan perih yang tidak akan bisa hilang dan memudar. Memudarnya sisi kemanusiaanlah yang menciptakan rasa hampa, kosong, pedih, gelisah dan perih tersebut. Sisi kemanusiaan inilah yang justru membuat manusia berhak menyandang gelar sebagai makhluk paling mulia ciptaan Sang Maha Pencipta. Perasaan dan akal-lah yang membuat kita menjadi makhluk termulia.
Dan ironisnya perasaan dan akal ini jugalah yang kerap kita abaikan dalam menyikapi situasi yang terjadi dalam kehidupan kita. Tanpa sadar, kita telah meniadakan kemanusiaan dalam diri kita. Kita kerap mengungkung kemanusiaan kita di dalam kerangkeng materi, dendam, dan maksud terselubung yang menghalalkan kita untuk melakukan apa saja. Apakah dengan begini kita masih pantas menyandang sebutan ‘manusia’?
Ini adalah pilihan bagi Anda, saya, kami, dan kita semua. Pilihannya tidak sulit. Yang perlu kita lakukan adalah mendengar suara hati kita. Yang perlu kita sadari adalah adanya ruang besar dalam diri kita yang senantiasa memberikan kita perasaan hampa, gelisah, dan pilu saat tindakan kita bertentangan dengan makna kemanusiaan, dan sebaliknya memberi perasaan terpenuhi, nikmat, enak, lega atau haru saat tindakan kita selaras dengan nilai kemanusiaan dan terhubung dengan Sang Maha Pencipta. Tuhan Yang Maha Esa telah memberi amanah agar kita senantiasa menjadikan diri kita bermanfaat bagi sesama, bukan malah sebaliknya.
Merdekakan kemanusiaan dalam diri Anda.
| Next > |
|---|