You are here:   Home Insight Personal Growth Ajukan Pertanyaan Yang Tepat dan Ijinkan Diri Anda Menjawabnya

Ajukan Pertanyaan Yang Tepat dan Ijinkan Diri Anda Menjawabnya

questionmarkPagi itu saya berbincang santai dengan rekan kerja saya. Materi perbincangan kami begitu beragam, mulai dari pekerjaan, keluarga sampai pada suatu ketika kami memperbincangkan rencana masa depan. Rekan saya merasakan ketidakpastian dengan masa depannya. Jabatannya saat ini dinilai banyak orang sangat bagus dan menjanjikan dengan gaji tinggi dan fasilitas luar biasa yang membuat iri kebanyakan orang. Namun, tetap saja dia merasa kurang nyaman karena menurutnya banyak hal dalam pekerjaannya yang bertentangan dengan nurani dan nilai-nilai yang diyakininya. Dia begitu ingin bekerja dan berkarya yang sesuai dengan hatinya; Sesuatu yang memenuhi kebutuhan materi maupun rohaninya; Sesuatu yang membuat dia merasa terpenuhi, merasa sukses dalam menjalani hidupnya.

Tapi masalahnya dia terlalu takut untuk melangkah. Dia bercerita kepada saya bahwa dia sering dia berbincang dengan rekannya terkait dengan rencana masa depannya. Kebanyakan dari mereka menyarankan dia untuk bertahan mengingat jabatannya saat ini sangat bagus dan sayang untuk ditinggalkan. Mereka pun mengujinya dengan pertanyaan semacam; “Bagaimana kalau kamu gagal?”, “Sanggupkah kamu memulai dari nol?”, “Siapkah kamu hidup susah?” dan masih banyak lagi. Rekan saya merenungkan pertanyaan-pertanyaan itu dan dia mendapatkan jawabannya. Dia makin bimbang, makin tertekan. Di satu sisi dia ingin keselarasan pekerjaan dengan nuraninya, di sisi lain dia mendapatkan gambaran tidak menyenangkan bila dia melakukan perubahan.

Insan Merdeka!, situasi seperti ini mungkin pernah Anda alami dalam perjalanan karir Anda. Saat Anda menghadapi suatu situasi yang mengharuskan Anda untuk melakukan pilihan, maka Anda harus bisa melakukan pertanyaan yang tepat bila ingin mendapatkan jawaban yang tepat pula.

Tahukah Anda bahwa pada dasarnya salah satu default system dari tubuh kita adalah “selalu berusaha memberikan jawaban atas pertanyaan yang ada”. Bahasa para psikolog untuk hal ini adalah embedded presupposition factor. Yang diperlukan agar sistem itu bekerja tentu saja adanya pertanyaan. Biasanya kita melontarkan pertanyaan karena adanya stimulir dari luar. Ada kondisi atau situasi yang belum dipahaminya yang membuatnya bertanya. Pertanyaan bisa saja kita ajukan ke orang lain atau ke diri sendiri.

Semasa kita masih kecil, tentu kita mendapatkan berbagai pengalaman (jawaban) dari pertanyaan yang kita punyai. Saat memegang lilin yang menyala dan terasa panas, Anda mendapatkan jawaban kenapa orang tua Anda melarang kita bermain api. Anak kecil juga suka mengamati benda yang dipegangnya. Benda beroda yang sebelumnya tidak dia ketahui apa gunanya ternyata bisa membuat dia merasa senang dan terhibur. Alam bawah sadar yang mendorongnya untuk menggerakkan roda itu di lantai atau dinding. Itu merupakan jawaban dari pertanyaan, “Apa guna benda dengan bentuk unik ini?” Dirinya memberinya jawaban atas ketidaktahuannya. Bertanya dan mendapatkan jawaban inilah yang memberi kita pengalaman sampai kita tumbuh dewasa. Hanya saja, kedewasaan harusnya mampu membuat kita bertanya secara tepat untuk mendapatkan jawaban yang tepat pula. Si jenius Sir Isaac Newton melakukan pertanyaan yang tepat manakala kepalanya tertimpa sebutir apel. Pertanyaannya memunculkan jawaban berupa hukum gravitasi yang ditulisnya dalam buku Philosophiae Naturalis Principia Mathematica yang kontan mengubah wajah ilmu pengetahuan dunia.

Saat merenungkan sesuatu, tentu Anda akan melontarkan serial pertanyaan. Misal; Anda sedang merenungkan masa percobaan (probationary period) segera berakhir. Mungkin alam bawah sadar Anda memunculkan pertanyaan seperti, “Lulus atau tidak ya aku?”, atau “Kalau aku tidak lulus percobaan, aku harus bagaimana?” dan sebagainya. Tanpa diminta, diri Anda akan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Bagaimana jawabannya? Tergantung pertanyaannya. Jadi, bila Anda ingin mendapatkan jawaban yang tepat, Anda harus tahu bagaimana bertanya yang tepat agar jawaban yang muncul bukan justru membuat Anda berpikir negatif lantas merasa tertekan.

Dalam contoh rekan saya di atas, andai saja dia tahu cara bertanya yang tepat, mungkin dia akan mendapatkan serangkaian jawaban yang berbeda. Jadi bukannya bertanya “Bagaimana kalau aku gagal”, dia mestinya bertanya “Apa yang harus kulakukan agar aku berhasil?”. Coba Anda tanyakan dua pertanyaan ini ke diri Anda sendiri, pasti jawaban yang muncul berbeda bukan? Jawaban dari pertanyaan pertama mungkin; “Wah..aku akan hidup susah, miskin”. “Aku akan malu, dicemooh orang” dan berbagai jawaban lain. Sementara itu, jawaban dari pertanyaan kedua mungkin; “Aku harus mempersiapkan rencana secara matang dan menyusun tahapan-tahapan”, atau “Aku harus secepatnya mempelajari keahlian penunjang profesi baruku”, atau “Aku segera menambah tabunganku setiap bulan sampai jangka waktu tertentu,” dan seterusnya. Bagaimana? Berbeda bukan? Pemikiran positif yang muncul akan mempengaruhi perasaan Anda dan tindakan Anda secara positif pula. Demikian juga sebaliknya.

Jadi, carilah jawab dari dalam diri kita dengan mengajukan pertanyaan yang tepat dan mengena. Selaraskan perasaan, pikiran dan tindakan Anda.

Merdeka!