Pernah dan seringkah kita memakai komentar di atas ketika mendengar suatu penjelasan? Mengapa kita berkomentar seperti itu? Apakah karena penjelasan yang diberikan oleh seseorang tersebut yang salah atau apakah karena kita merasa teori yang dijelaskan tersebut tidak masuk akal?
Mari kita coba bahas satu per satu.
Katakanlah kita menganggap penjelasan itu salah. Apakah bijak kita anggapan kita itu? menurut saya pribadi, sepanjang itu bukan hukum dan norma Tuhan yang tertulis di dalam kitab suci, sepanjang itu bukan formula baku matematika, maka rasanya masih ada celah orang lain berpendapat berbeda dari pendapat kita. Itu sah dan boleh-boleh saja. Bahkan bila kita cukup bijak dan terbuka untuk menerima perbedaan-perbedaan tersebut, diri kita akan dikayakan oleh banyaknya ide yang masuk ke dalam otak kita dan bisa jadi dari kesuluruhan ide tersebut akan berfusi, luruh menyatu, menjadi satu ide besar yang cemerlang. Medici effect!1
Dengan bersikukuh bahwa suatu penjelasan atau teori itu salah dan tidak ada hal lain di dalamnya selain kesalahan dan kesalahan, maka kita akan segera sibuk mencari argumen untuk menyalahkan teori tersebut dan mencari cara untuk yang bisa membuat kesan bahwa kita adalah pihak yang paling benar. Kesibukan kita melakukan semua itu menyebabkan kita justru tidak mendapatkan apapun.
Teman saya seorang pengusaha singkong goreng mengeluh bahwa omsetnya merosot tajam bahkan sampai sering merugi. Dia ingin usaha yang lain. “Capek sudah. 2 tahun jualan singkong bukannya tambah maju.. eh, malah tambah banyak pesaing.” Keluhnya.
Ketika saya beri saran, “Teruslah berjualan singkong..” Dia langsung argumentatif setengah sewot. “Waduh, saranmu itu salah besar.. ngaco. Masak kamu nggak lihat sekarang ini hampir tiap sekian puluh meter ada orang jual singkong . Dulu sih enak.. cuma aku aja yang jual singkong.. blah.. blah.” Intinya dia tidak mau menerima pendapat saya.
Dia tidak mendapat apapun dari nasehat saya. Padahal ada sisi-sisi yang belum terungkap dari nasehat itu. Masih membahas usaha singkong tersebut, mengapa saya merasa dia harus meneruskan jualan singkongnya?
Pertama, banyaknya pesaing yang menjual singkong menunjukkan bahwa pasar pembeli singkong ada dan bagus. Kedua, dia sudah memiliki pengalaman selama 2 tahun dalam per-singkong gorengan sehingga dia cukup menguasainya. Ketiga, dengan pengalaman tersebut dan demand yang cukup besar di daerah itu, saya yakin bahwa tidak terlalu sulit buat dia untuk berinovasi dan melakukan breakthrough agar singkong gorengnya mempunyai positioning tersendiri. Namun apa mau dikata, dia sudah menutup diri atas kemungkinan-kemungkinan tersebut.
Yang selanjutnya, mungkin kita menganggap suatu teori atau penjelasan itu tidak masuk akal sehingga tidak mau menerimanya. Saya akan ajukan satu pertanyaan lagi mengenai hal ini? Apabila sesuatu itu tidak masuk akal, akal siapa sebenarnya yang sedang kita biacarakan disini? Akal KITA! Jadi seharusnya kita lengkapi ucapan itu menjadi, “Penjelasanmu tidak masuk akalku!”
Kalau sesuatu penjelasan tidak masuk akal kita apa yang akan terjadi? Tidak ada. Tidak ada apapun yang akan terjadi bila kita menganggap suatu hal itu tidak masuk alias tidak bisa dicerna oleh akal kita. Konyolnya, setelah kejadian seperti itu kita sering bercerita kepada orang lain tentang ketidak masuk akal-an penjelasan seseorang mengenai sesuatu. Seakan orang tersebut yang bermasalah padahal akal kitalah yang tidak bisa menerima.
Beberapa tahun yang lalu, masuk akalkah ide tentang kita mampu mencari keterangan tentang apapun dalam hitungan detik, hanya dengan mengetikkan satu atau beberapa kata kunci? Mungkin jawabannya tidak. Untuk Larry Page dan Sergey Brein ide itu sangat masuk akal dan karena itulah, pada tahun 1996, mereka berusaha mewujudkannya. Mereka membangun mesin pencari untuk aplikasi internet. Ketika server pertama mereka berhasil dibentuk, kemampuan server itu masih jauh dari apa yang ada di akal mereka. Untungnya mereka tidak lantas berkesimpulan bahwa ide mereka memang tidak masuk akal. Mereka terus mencoba dan yakin bahwa ide yang mereka punyai sangat masuk akal (mereka). sampai akhirnya saat ini kita bisa menikmati Google. Ketekunan Larry dan Sergey meyakini bahwa ide 'gila' mereka masuk akal, membuat Google menjadi perusahaan besar dengan milyaran profit yang mempunyai 19.700an pegawai di seluruh dunia. Benar-benar tidak masuk akal!
“Aahh.. itu teori! Kalau cuma ngomong aja ya gampang!”
Selama kalimat itu kita gunakan untuk menyalahkan orang lain dan men-tidak masuk akal-kan orang lain – saya mohon ma’af pada para ahli bahasa Indonesia tentang tata bahasa saya yang ini – maka sebenarnya yang kita tolak adalah perubahan diri sendiri. Kembali pada contoh teman yang jualan singkong tadi. Pada satu titik dari nasehat saya, ketika saya sedang mencoba menjelaskan tentang inovasi yang mungkin dilakukan dengan bisnis singkongnya, terucaplah kalimat itu. Sebenarnya, arti kalimat bagi dia adalah, “Saya tidak mau/mampu melakukannya karena itu pasti akan sulit.. blah.. blah..”
Adakah pembaca masih ingat waktu pertama kali belajar cara mengendarai mobil? Kita diberi tahu tentang bagaimana memasukkan persneling setelah terlebih dahulu menginjak pedal kopling dan seterusnya dan seterusnya. Apa yang kita lakukan setelah mengerti teorinya? Kita melakukannya alias mempraktekkannya. Apakah langsung lancar? Kemungkinan besar tidak dan bahkan beberapa di antara kita mungkin sempat menimbulkan kehebohan dan kemacetan di jalan yang kita lewati akibat cara nyetir yang masih ‘terbata-bata.’ Setelah terus melakukan apa yang terjadi? Sekarang kita nyetir tanpa pernah berpikir kapan harus nginjak kopling atau gas. Semua serba otomatis.
Teori itu adalah untuk dilakukan. Teori tetap teori apabila kita tidak mendayagunakannya. Kesulitan yang datang ketika kita menjalankan suatu teori adalah wajar karena manusia tidak langsung bisa, tidak langsung pada level unconscious compentence. Mereka harus melewati tangga unconscious incompetence, Conscious incompetence, Conscious Competence dan akhirnya Unconscious Competence. Kita tidak akan pernah sampai pada level terakhir kalau kita tidak mau mempraktekkan atau melakukan teori yang kita dapat.
Buku yang kita beli, seminar yang kita ikuti, pelatihan yang kita ambil, semuanya perlu dilakukan setelah kita dapatkan teorinya. Bila kita tidak melakukan apapun setelah membaca buku atau mengikuti suatu seminar atau pelatihan dan kemudian berpikir, “Kok, nothing’s happened, ya? Kok, nggak ada perubahan ya?” Bisa-bisa kita diketawain semut!
Banyak ilmu yang hebat di dunia ini. Luar biasa jumlah ide yang tertulis sebagai teori. Bila kita ingin menyerap pengetahuan yang begitu berlimpah itu modal utamanya adalah 'keterbukaan' dan 'kerendahan' kita. Kita tenangkan batin dan pikiran kita, gunakan segenap panca indra untuk menerima pesan-pesan yang sedang disampaikan ke diri kita. Buang jauh-jauh rasa 'aku lebih tahu', 'aku yang punya pengalaman', dan lainnya. Pesan-pesan itu tidak harus dari seseorang, bisa juga dari sesuatu, sungai, bebatuan, angin, tumbuhan, hewan, dari apapun. Apabilakita bersedia membuka dan merendahkan hati kita, meniadakan keangkuhan kita, niscaya semua itu akan memberikan kita pengetahuan yang melimpah. Dengan tindakan yang tepat, pengetahuan tersebut bisa membawa diri kita kepada pencapaian kemanusiaan yang hakiki, kesuksesan yang sejati.
Selamat melakukan. Merdeka!
1 Medici Effect, Frans Johansen, Harvard Business School Press, 2004
| < Prev | Next > |
|---|