You are here:   Home Insight Personal Growth Anda Cemberut? Saya Merengut!

Anda Cemberut? Saya Merengut!

Anda Cemberut? Saya Merengut!

Bagaimana Lingkungan Anda Merespon Perilaku Anda

by Hery Ratno

Frowning1Sebenarnya setiap orang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi lingkungan sekitarnya secara positif. Menjadikan suasana lebih menyenangkan dan bahkan meningkatkan kepercayaan orang lain terhadap dirinya. Sayangnya, tidak semua orang menyadari kemampuan ini. Tanpa disadari, banyak di antara kita yang justru melakukan tindakan yang bersifat negatif terhadap lingkungan sekitar kita. Coba Anda bayangkan bila suasana rumah negatif; semua sibuk dengan urusan sendiri, tidak ada interaksi, bicara seperlunya, masa bodo dengan kesulitan anggota keluarga lain atau bahkan sering terjadi konflik. Bila Anda berada di rumah dengan suasana seperti itu, bagaimana perasaan Anda? Tidak kerasan, tidak ingin berlama-lama berada di rumah dan sebaginya. Itu kalau di rumah. Kalau di kantor? Andai bawahan Anda merasakan suasana negatif, apa yang bisa mereka lakukan? Mungkin mereka ingin berlama-lama di luar kantor? Mana bisa?! Ingin keluar dan ganti pekerjaan? Iya kalau langsung dapat, kalau tidak? Bisa dibayangkan betapa terpojoknya posisi mereka ini. Mau menghidupi keluarga saja kok susah amat ya? Bila Anda menjadi pemimpin di lingkungan kerja seperti itu, kinerja macam apa yang bisa Anda harapkan dari karyawan yang mengalami depresi seperti itu? Berbagai gejala negatif mungkin akan terjadi; karyawan sering tidak masuk karena sakit, datang terlambat, pekerjaan tidak kunjung selesai, tingkat kesalahan tinggi, sering terjadi konflik dan sederet gejala-gejala lainnya. Tahukah Anda bahwa sebagai pemimpin, Anda mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap terciptanya suasana buruk seperti ini. Berikut ini ada beberapa hal yang bisa membantu Anda memahami hal-hal mendasar seputar manusia dan menciptakan suasana produktif dan menyenangkan.

Efek Cermin

Ada percobaan sederhana yang bisa membuat Anda memahami fenomena “efek cermin” ini lebih mudah. Tersenyumlah kepada orang lain, bahkan yang tidak Anda kenal sekalipun. Kalau dia benar-benar sedang melihat Anda manakala Anda tersenyum kepadanya, maka dia pasti akan membalas senyum Anda. Mau percobaan yang lebih ekstrim? Cobalah menguap di hadapan sejumlah orang dan perhatikan yang terjadi beberapa saat kemudian. Satu per satu dari orang yang kebetulan memperhatiakan Anda menguap pasti juga akan menguap. Kita lihat contoh lain; Anda melihat seorang rekan termenung dengan wajah murung, mungkin dia sedang mempunyai masalah yang berat. Bagaimana perasaan Anda? Tiba-tiba jadi tidak enak kan? Mungkin niat Anda yang mau menyapa akan Anda urungkan. Rupanya wajah murungnya memancarkan energi negative yang juga mempengaruhi Anda. Sebaliknya, bila ada rekan kerja yang sedang gembira, maka suasana di sekitarnya juga terpengaruh secara positif. Itulah “efek cermin” – bahwa perilaku non-verbal seseorang cenderung ditiru orang lain yang kebetulan melihat perilaku non verbal itu.

Secara ilmiah, fenomena ini pernah diteliti. Dari hasil penelitian terungkap bahwa ada sekumpulan neuron di otak yang dinamakan “mirror neuron”. Neuron tersebut mempunyai kemampuan luar biasa untuk memancarkan impuls listrik tidak hanya saat suatu tindakan/perilaku tertentu sedang berlangsung, tetapi juga saat orang lain melakukan observasi terhadap tindakan/perilaku tersebut. Dari hasil penelitian, aktivitas neuron di dalam otak tidak hanya menangkap gerakan tapi juga niat, sensasi dan emosi orang-orang di sekitar kita. Misal, Anda sedang menonton film dan di layar menyuguhkan adegan seekor ular berbisa merayap di tempat tidur mendekati seseoang yang sedang terlelap. Jika bulu kuduk Anda merinding saat Anda melihat ular itu merayap di tangan orang itu, maka itu karena adegan itu telah mengaktifkan neuron yang juga akan merespons andai saja ular itu merayap di tangan Anda - otak Anda menerjemahkan apa yang sedang Anda lihat menjadi sensasi.

Kemampuan otak kita untuk bercermin membuat kita bisa mempelajari sesuatu dengan cara melihat orang lain. Ini merupakan kemampuan bertahan hidup yang sangat penting. Bahkan, orang yang menderita autisme dan cacat otak lainnya cenderung mengalami keabnormalan terhadap system cermin otak mereka. Sayangnya anak-anak kita sekarang sering disuguhi tindak kekerasan dan pornografi tidak hanya di televisi, bahkan juga di media cetak atau mesin-mesin game yang mereka mainkan. Apa yang terjadi, neuron mereka aktif dan menstimulir anak-anak yang semestinya masih polos itu untuk melakukan kekerasan dan pornografi seperti yang mereka lihat! Nah, Anda sekarang tidak heran lagi kenapa pelaku kriminal usia belia makin banyak di negara kita kan? Apa kita akan diam saja? Tentu saja tidak. Marilah kita gunakan pengetahuan ini untuk bisa meluruskan kembali penyimpangan-penyimpangan yang banyak terjadi di sekitar kita. Jadi, hanya lewat pemahaman dan niat baik sajalah kita bisa gunakan proses cermin di otak kita untuk mengarahkan kita ke masa depan yang lebih manusiawi.

Setelah menyadari fenomena unik ini, apa yang bisa Anda lakukan untuk membuat suasana di sekitar Anda menjadi menyenangkan dan positif? Secara umum jawabannya sederhana; jaga suasana hati Anda sehingga perilaku non-verbal Anda pun akan positif. Gampangnya, bila Anda riang gembira orang-orang di sekitar Anda juga akan cenderung bersikap lepas dan ikut gembira, sebaliknya jika Anda tampak tegang, stress, maka orang-orang yang berada di sekitar Anda pun cenderung menahan diri sehingga suasana menjadi tegang dan tidak menyenangkan.|Manakala suasana menyenangkan, orang-orang di sekitar Anda akan punya kecenderungan untuk lebih terbuka. Dalam ruang lingkup kerja, keterusterangan dan keterbukaan merupakan hal yang amat penting. Sebagai pemimpin Anda bisa membayangkan betapa tidak enaknya saat Anda terlambat menerima informasi yang amat penting hanya gara-gara bawahan Anda segan menyampaikannya. Apakah Anda akan sepenuhnya menyalahkan mereka? Hmm, mungkin sebagian besar dari kita sering melakukannya. Tapi apakah itu fair bagi bawahan Anda? TIDAK. Kenapa? Karena mungkin mereka segan menyampaikannya langsung kepada Anda manakala melihat wajah atasannya ditekuk, tegang, kusut dan sebagainya. Anda pasti pernah memulai karier dari bawah. Anda pasti pernah merasakan keragu-raguan dalam diri; mau menghadap pimpinan, tapi kok wajahnya tegang. Tidak menghadap nanti takut disalahkan. Serba salah dan jadi suatu dilema. Kalau Anda pernah merasakan seperti ini, ya tolong jangan diulangi ke bawahan Anda pada saat ini. Fair kan?

Dengan berusaha menjaga suasana hati yang lantas tercermin dari ekspresi wajah dan perilaku positif lainnya, maka sebenarnya Anda mempermudah tercapainya sasaran-sasaran perusahaan Anda. Kok bisa? Suasana kerja menyenangkan dan kondusif mempengaruhi cara kerja dan output kerja bawahan Anda. Mereka merasa lebih lepas manakala ingin mendiskusikan sesuatu dengan Anda. Mereka merasa dipahami dan menjadi bagian penting dalam tim kerja Anda. Mereka merasa dipercaya dan bisa mempercayai atasannya. Semua itu yang akan mempermudah tercapainya sasaran-sasaran perusahaan.

Tetapi, kita tetap harus ingat bahwa faktor manusia tetaplah faktor yang kompleks. Betapa pun kita berusaha untuk memahami dan bahkan menyenangkan orang-orang di sekitar atau bawahan kita, mereka tetaplah individu-individu yang mempunyai keunikan dan kompleksitas masing-masing. Tetap akan ada individu yang tenggelam dalam permasalahannya sendiri manakala sebagian besar rekannya sudah merasa nyaman dengan perubahan yang Anda lakukan. Menghadapi permasalahan seperti ini apa yang harus Anda ketahui dan bisa Anda lakukan? Tulisan berikut ini akan membantu Anda menelaah gejala turunnya performa seseorang dan memformulasikan solusi yang paling mengena.

Bersambung.